Pernah ada seorang lelaki dengan sifat yang tidak baik, yaitu dia sering menyakiti hati perempuan yang dekat dengannya, setelah dia bosan dengan perempuan itu, begitu saja ditinggalkannya. Suatu saat sahabat dekatnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia berbuat salah atau menyakiti orang lain, bahkan orang terdekatnya.
Hari pertama dia memaku 12 batang di pagar.
Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri dan tidak menyakiti orang lain, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri atau tidak menyakiti orang lain daripada memaku paku di pagar. Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada sahabatnya itu.
sahabatnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri atau berbuat baik dan tidak menyakiti orang lain lagi.
Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada sahabatnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar.
sahabat ini membawa temannya ke pagar dan berkata:
”teman, kamu sudah berlaku baik tidak menyakiti orang lain lagi,
tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar.”
Pagar ini tidak akan kembali seperti semula.
Kalau kamu berbuat salah atau menyakiti perasaan orang lain, terlebih orang terdekat kamu, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar ini.
Kamu bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka.
Tak peduli berapa kali kamu meminta maaf, menyesal, atau menebus kesalahanmu, luka yang dulu tetap akan tinggal.
Luka melalui ucapan atau perlakuan sama perihnya seperti luka fisik.(end)