back to the top

about me

Foto Saya
panjiKrishna
bali | jakarta
seorang yang sangat mencintai dunia visual... jagalah sesuatu yang indah dalam hidupmu, karena yang indah itu menarik dan yang menarik itu mudah dan kita akan selalu yakin dengan hasilnya...
Lihat profil lengkapku
 

"Berkarya atau Mati"

~ ~
























mencoba menyikapi bagaimana hari pahlawan itu kita artikan sebagai hari pembangkit semangat para pahlawan kita dahulu ke dalam kehidupan kita. sebagai orang yang berkecimpung di bidang kreatif (desainGrafis) saya mencoba menstransformasi "arti" Hari pahlawan kali ini ke dalam sebuah kalimat "berkarya atau mati", sebuah kalimat layaknya seorang pahlawan yang sedang berada di tengah medan peperangan dengan semangat perjuangan dan kepalan tangan di atas sembarai berteriak "merdeka atau mati...!!!"...
marilah sebagai generasi muda, generasi kreatif, kita gunakan hari pahlawan kali ini sebagai penambah semangat kita dalam berkarya...berkarya dalam kebebasan, berkarya dalam kemerdekaan, berkarya dalam kecintaan...lalu teriakkanlah "berkarya atau mati...!!!"
selamat hari pahlawan indonesia....
salam kreatif...dan
MERDEKA...!!!

just must feel

~ ~
Pernah ada seorang lelaki dengan sifat yang tidak baik, yaitu dia sering menyakiti hati perempuan yang dekat dengannya, setelah dia bosan dengan perempuan itu, begitu saja ditinggalkannya.

Suatu saat sahabat dekatnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia berbuat salah atau menyakiti orang lain, bahkan orang terdekatnya.

Hari pertama dia memaku 12 batang di pagar.
Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri dan tidak menyakiti orang lain, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri atau tidak menyakiti orang lain daripada memaku paku di pagar. Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada sahabatnya itu.

sahabatnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri atau berbuat baik dan tidak menyakiti orang lain lagi.
Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada sahabatnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar.

sahabat ini membawa temannya ke pagar dan berkata:
”teman, kamu sudah berlaku baik tidak menyakiti orang lain lagi,
tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar.”
Pagar ini tidak akan kembali seperti semula.
Kalau kamu berbuat salah atau menyakiti perasaan orang lain, terlebih orang terdekat kamu, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar ini.
Kamu bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka.
Tak peduli berapa kali kamu meminta maaf, menyesal, atau menebus kesalahanmu, luka yang dulu tetap akan tinggal.
Luka melalui ucapan atau perlakuan sama perihnya seperti luka fisik.(end)

tribute to 64 indonesia

~ ~


Cerita tentang Hidup

~ ~
sengenggam garam

Dahulu kala, hiduplah seorang guru yang terkenal bijaksana. Pada suatu pagi, datanglah seorang pemuda dengan langkah lunglai dan rambut masai. Pemuda itu sepertinya tengah dirundung masalah. Tanpa membuang waktu, dia mengungkapkan keresahannya: impiannya gagal, karier, cinta, dan hidupnya tak pernah berakhir bahagia.

Sang Guru mendengarkannya dengan teliti dan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Dia taburkan garam itu ke dalam gelas, lalu dia aduk dengan sendok.

" Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya?" pinta Sang Guru.

"Asin dan pahit, pahit sekali," jawab pemuda itu, sembari meludah ke tanah.

Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya berjalan ke tepi telaga di hutan dekat kediamannya. Kedua orang itu berjalan beriringan dalam kediaman. Sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Sang Guru lalu menaburkan segenggam garam tadi ke dalam telaga. Dengan sebilah kayu, diaduknya air telaga, membuat gelombang dan riak kecil.

Setelah air telaga tenang, ia pun berkata, "Coba, ambil air dari telagaini, dan minumlah."

Saat tamu itu selesai meneguk air telaga, Sang Guru bertanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar," sahut pemuda itu.

"Apakah kamu masih merasakan garam di dalam air itu?" tanya Sang Guru.

"Tidak," jawab si anak muda.

Sang Guru menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk bersimpuh di tepi telaga.


"
Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan seumpama segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.Tetapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita pakai. Kepahitan itu, selalu berasal dari bagaimana cara kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan atau kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang boleh kamu lakukan: lapangkanlah dadamu untuk menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Luaskan cara pandang terhadap kehidupan. Kamu akan banyak belajar dari keluasan itu."

"Hatimu anakku, adalah wadah itu. Batinmu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah hatimu seluas telaga yang mampu meredam setiap kepahitan. Hati yang seluas dunia!"

Keduanya beranjak pulang. Sang Guru masih menyimpan "segenggam garam" untuk orang-orang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan hati.
(Kalyana)


http://gozalionline.blogspot.com/2009/04/segenggam-garam-untuk-yang-gelisah.html

sketsa yang dulu...

~ ~























sempat tempo hari yang lalu saya mencari-cari file gambar yang pernah saya kerjakan dulu, dan tak sengaja file gambar tersebut ternyata masih ada beberapa walaupun sudah terlihat kusam, terdapat sketsa gadis kecil, albert einstein, jalak Bali, dan lainnya. iseng saya layout sedemikian rupa hanya untuk menyenangkan diri sendiri...:-)